headerphoto
headerphoto

Pesantren Al-Aziziyah Mencetak Generasi Qur’ani


Matahari hampir tenggelam ketika lantunan bacaan al-Qur’an mulai terdengar merdu di pengeras suara Masjid Al-Kautsar di Pondok Pesantren Al Aziziyah Kapek Gunungsari Lombok Barat. Para santri pun nampak bergegas mulai berbaris di shaf masjid untuk menunggu datangnya shalat Maghrib berjamaah.

Saat menunggu waktu shalat Maghrib, sisa waktu yang ada digunakan oleh sebagian santri untuk melakukan pengulangan (murajaah) hafalan al-Qur’an. Begitulah tradisi menghafal para santri pesantren asuhan Tuan Guru Musthafa Umar Abdul Aziz. Sejak berdiri, pondok ini memang mengarahkan santrinya untuk menghafal al-Qur’an.  

Lihat saja Eka Budiyansyah (16) asal Sumbawa ini. Santri kelas dua Madrasah al-Qur’an wal Hadis (MQWH) ini telah mampu menghafal 10 juz. Eka menargetkan selama enam tahun mondok bisa mengkhatamkan hafalannya, yakni 30 juz. “Murajaah terus saya lakukan untuk memantabkan hafalan, sebab jika tidak hafalan akan hilang,” paparnya saat ditemui Majalah Gontor.

Eka bersyukur karena dirinya bisa nyantri di Pesantren Al Aziziyah. Di Nusa Tenggara Barat, pesantren ini dikenal sebagai gudangnya para penghafal al-Qur’an. ''Alhamdulillah, selama dua tahun saya sudah hafal 10 juz,'' ungkapnya.
 
Keinginan Eka nyantri di Al Aziziyah karena melihat salah satu guru Pesantren Al Aziziyah menjadi hafidz internasional, yakni ustadz Fathul Aziz Musthafa Umar, yang menjadi Juara Tahfidz Internasional di Makkah tahun 1988. selain itu banyak santri yang menggondol juara dalam acara MTQ tingkat nasional.

Pondok pesantren Al Aziziyah berdiri tahun 1986. Menurut H Kholid Nawawi, Wakil Kepala Tahfidzul Quran ini, Al Aziziyah cikal bakal pesantren ini awalnya hanya kelompok pengajian di sebuah masjid di kampung bernama Masjid Usisa Ala Taqwa, 300 meter dari pesantren yang saat ini berdiri.

Saat itu pengajian yang digelar hanya untuk tahfidz al-Qur’an saja. Maklum saat itu pengajian tahfidz masih sangat jarang. Terlebih lagi model yang diterapkan mengadopsi dari sistem pengajaran di Makkah. 

Kholid menambahkan, sejak menimba ilmu di Al Aziziyah Makkah, Tuan Guru Musthafa sangat bersemangat mendirikan pesantren yang fokus pada hafalan al-Qur’an. Di kota itu, Tuan Guru tinggal selama 15 tahun. “Ketika pesantren baru berdiri, sudah ada tiga orang, Tuan Guru, saya, dan ustadz Fathul Azis,'' ungkap pria asal Madura yang merupakan menantu dari Tuan Guru Musthafa Umar ini.
 
Saat ini, pesantren Al Aziziyah telah memiliki santri sekitar 1500 orang. Bahkan  sejak berdiri hingga 2009, pesantren ini telah meluluskan 250 penghafal al-Qur’an. ''Ponpes ini memang cita-cita awalnya untuk mencetak penghafal al-Qur’an dan ulama,'' tutur Kholil.

Setelah dua tahun fokus dengan pengajian tahidz al-Qur’an, para pimpinan pondok berdiskusi agar keluaran Al Aziziyah bisa melanjutkan ke sekolah. Akhirnya diputuskan membuka Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Sedangkan pengajian yang fokus pada hafalan al-Qur’an diletakkan di MQWH. “Anak yang ingin fokus pada hafalan dan kajian tafsir hadis bisa belajar di MQWH, dan nantinya bisa mengikuti ujian persamaan,” paparnya.
 
Satu prinsip yang tetap dipegang pesantren Al Aziziyah yakni setiap murid yang mondok tetap menghafal al-Qur’an meski tingkatannya berbeda-beda. “Nantinya ketika lulus tsanawiyah atau aliyah mereka sudah mengantongi hafalan,” ujarnya.

Sejak berdiri, pondok ini kerap memenangkan lomba tingkat Nasional, bahkan pesantren ini selalu menjadi barometer pemerintah NTB untuk mengirimkan wakilnya dalam lomba tahfidz dan tafsir al-Qur’an. Wakil dari pesantren ini tiap tahun menjadi juara lomba tingkat nasional.

Untuk wilayah Lombok Barat, Pesantren Al Aziziyah merupakan pondok terbesar dengan bangunan hingga empat lantai dan masjid tiga lantai. Para santrinya pun datang dari berbagai penjuru Nusantara. Mulai dari Aceh, Jawa, Bali, Sulawesi, Kalimantan hingga Nusa Tenggara Timur.

Biaya belajar di pesantren Al Aziziyah bisa dibilang murah. Bayangkan, dalam setahun orangtua santri cukup mengeluarkan kocek sebesar Rp 720 ribu untuk tingkat tsanawiyah dan Rp 750 ribu untuk Aliyah. Biaya tersebut belum termasuk uang bulanan bagi yang mukim di pesantren sebesar Rp 150 ribu.

Dengan biaya seperti itu, para santri bisa mendapatkan fasilitas pondok seperti ruang belajar, asrama, masjid, perpustakaan, laboratorium komputer, MIPA, praktik usaha santri, kopontren, pos kesehatan, kantin, mini bank, dapur umum, air, listrik, dengan tenaga pengajar dari lulusan S1, S2 dari dalam dan luar negeri.

Pesantren Al Aziziyah merupakan lembaga pendidikan Islam yang memberikan layanan pendidikan mulai dari dasar hingga perguruan tinggi. di atas tanah seluas 8 hektar ini telah berdiri bangunan bertingkat untuk belajar anak-anak tingkat Taman Kanak-Kanak al-Qur’an, Sekolah Dasar Islam, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Masdrasah qur’an wal Hadis, Ma’had Aly, Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) dan sekarang dalam proses perijinan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES).

Menurut salah seorang Pengurus Pesantren Al Aziziyah, Fathul Aziz Musthafa Umar keberadaan STIKES ini sebagai upaya membekali anak didiknya mampu bergelut di dunia kesehatan. Tak hanya itu, setiap calon lulusan STIKES, nantinya juga dibekali dengan hafalan al-Qur’an. “Kami ingin melahirkan generasi cinta al-Qur’an, namun berwawasan luas,” paparnya.